Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas(Dialihkan dari Guan Yin)
Kwan Im
pertama diperkenalkan ke Cina pada abad pertama SM, bersamaan dengan
masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea
dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga
mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama
Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.
Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han,
Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan
Pek Ie Tai Su
yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (“Dewi Welas Asih”). Di
kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Buddha
Avalokitesvara. Pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa
Sansekerta adalah:
- “Avalokita” (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi)
yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah”
disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (Sansekerta:lokita)).
- Kata “Isvara” (Im / Yin), berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami).
Kwan Im sebagai seorang Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang,
Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudannya sebagai pria, beliau disebut
Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (
Biauw Hoat Lien Hoa Keng)
disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan
dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou)
ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol
dari Bodhisattva yang mempunyai kekuasaan besar.
Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (
Pho To San)
di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai
“Buddha Wairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam
belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek
Ie*), salah satu Klenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im
(Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat
Manusia). Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam
Chien Chiu Kwan Im /
Jeng Jiu Kwan Im /
Qian Shou Guan Yin.
(Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu
bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya.
Julukan beliau secara lengkap adalah: "
Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat".
Patung Kannon di Daienin
Gunung Koya
Sejarah Klasik
Ketika
agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya
Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya
waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era
Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan
dalam sosok wanita.
Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita
perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal
Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang
disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang).
Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal,
mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”,
sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisattva pria.
Lambat laun
tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan
Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan
Guan Yin Phu Sa.
Dari pengaruh ajaran Kong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila
kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal
itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan
dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum
wanita yang membutuhkan pertolongan.
Dari sini jelas bahwa tokoh
Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa
berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci
di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat
suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Cina. Kesimpulan atas
hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal
munculnya Kwan Im Pho Sat.
Kano Motonobu
(白衣観音図), Kannon berjubah putih, Bodhisattva Welas Asih, abad ke 16
(Jepang). Lukisan tinta, cat dan emas pada sutra yang tergantung
Legenda Kwan Im
Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab
Hong Sin Yan Gi /
Hong Sin Phang
(“Penganugerahan Dewa”) disebutkan bahwa sebelum ia dikenal dengan
sebagai Dewi Kwan Im, ia dikenal dengan nama Chu Hang. Ia merupakan
salah satu murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).
Miao Shan
Selain
itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen,
Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun
403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao
Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim),
kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.
Disebutkan
bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi
yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama
Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang
bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).
Setelah ketiga puteri
tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri
pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang
jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah.
Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni di Klenteng
Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Kematian dan di alam baka
Berbagai
cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan
menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya.
Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan
memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang
puteri.
Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi
neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka,
Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara
ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci
mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.
Penguasa Akherat,
Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan
diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari
kematianNya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan
memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri
tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Buddha Amitabha
lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di
gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan
diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.
Menyelamatkan raja
9
(Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita
sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun
semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu
menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun
terlambat, sang Raja telah wafat.
Dengan kesaktianNya, Puteri Miao
Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami
siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan
pergi ke neraka untuk menolong. Pada saat akan menolong ayahNya untuk
melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu
setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan
itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan
setan-setan kelaparan.
Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang
menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang
Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta
bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk
bertobat dan mengikuti jalan Buddha. Rakyat yang mendengar bhakti
Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat
terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri
Miao Shan.
Buddha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat,
merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu
bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji
Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi
Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong
Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya.
Tangan seribu
Dalam
kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh
ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk
melawan mereka. Ia berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata
Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda
jenis.
Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang
berbeda, di antaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang
bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba
kepalanya pecah berkeping-keping. Buddha O Mi To Hud (Amitabha) yang
mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan
Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan
lebih banyak kepada manusia.
Dalam legenda Puteri Miao Shan,
disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai
kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang
Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa)
dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa).
Pelantikan
Disebutkan
juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat,
Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan
Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala”
dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”. Pada
mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi
tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa
terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun
ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi
kepadaNya.
Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi
pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa
Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Buddha. Ia
ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik.
Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan
Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat
Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si
Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti
Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk
mengatasiNya.
Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan
Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai.
Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa
salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha),
yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus
terdapat perbedaan di antara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata
roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api
dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie
adalah anak dari Gu Mo Ong.
Perwujudan Kwan Im
Dalam
sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh
tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
- Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
- Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
- Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
- Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
- Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
- Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
- Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
- Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.
Selain
perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan
Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja
Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan
lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im
ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan
wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga
ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau
ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O
Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.
20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im
- Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.
- Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.
- Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
- Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok
- Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
- Setiapkali ada orang memberimu satu kebaikan, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.
- Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.
- Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
- Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
- Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasihat.
- Jika
perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tapi kamu
menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.
- Jangan selalu melihat / mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.
- Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.
- Kalau wajahmu senyum hatimu senang, pasti kamu akan aku terima.
- Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa
- Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
- Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
- Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
- Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dgn kata-kata yang lemah lembut hingga orang itu insaf.
- Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalanku.
Nama lain
Kwan
Im di Asia Timur, dikenal dengan berbagai nama. Akan tetapi "Kwan Im"
atau "Kwan Tse Im" masih merupakan panggilan sederhana yang diberikan
untuknya. Berikut adalah beberapa panggilan atau sebutan yang diberikan
berdasarkan negara tertentu:
- Jepang; Kannon (観音), kadang-kadang dilafalkan sebagai (Kan'on). Nama formal yang digunakan adalah (Kanzeon - 観世音 - penulisan yang sama dengan Kwan Tse Im).
- Korea; Gwan-eum (관음) atau Gwanse-eum (관세음)
- Thailand; Kuan Eim (กวนอิม) atau Prah Mae Kuan Eim (พระแม่กวนอิม).
- Vietnam; Quán Âm atau Quán Thế Âm.
- Hong Kong (propinsi Guang Dong); Kwun Yum atau Kun Yum, pelafalan ini berdasarkan bahasa Kanton
Kuan-Yin :
the Chinese transformation of Avalokiteśvara, ditulis oleh Chun-fang, Yu tahun 1938, Penerbit : Columbia University Press, ISBN 0-231-12028-1